Warta Ekonomi.co.id, Jakarta –Kewirausahaan sosial saat ini telah menjadi sumber harapan. Sayangnya, kita seperti pengguna air keran yang sangat sedikit tahu tentang asal muasal air tersebut. Kewirausahaan sosial dapat dikatakan sebagai suatu gagasan yang diimplementasikan secara langsung oleh orang per orang, ketimbang gagasan yang muncul dari organisasi besar atau perusahaan multinasional. Gagasan yang disampaikan dengan cara yang sama sekali berbeda dengan yang lazim dan tidak perlu dipoles secara profesional. Gagasan yang mengungkapkan tentang ketimpangan sosial, masalah, dan risiko ekologi. Gagasan yang menggugat kemapanan yang lembam. Kewirausahaan sosial adalah kekuatan untuk melakukan transformasi sosial.

Siapa itu social entrepreneur? Mereka adalah orang yang memiliki solusi inovatif untuk mengatasi permasalahan sosial. Mereka adalah pribadi yang ambisius dan gigih, tidak menggantungkan diri pada dunia usaha dan pemerintah untuk mewujudkan gagasannya, serta mengarahkan perubahan secara sistematik dalam skala yang lebih besar. Social entrepreneur biasanya didukung oleh organisasi, media massa, perusahaan-perusahaan, dan para pembuat kebijakan. Mereka telah menjadi semacam aktor, akrab, dan dikenal oleh masyarakat, menjadi sebuah ikon, dan kadang-kadang terpolitisasi. Seringkali wirausahawan sosial dihadirkan sebagai sosok “orang yang istimewa” sebagai pahlawan atau pemimpin baru. Pada saat yang sama, kewirausahaan sosial menunjukkan jalan untuk menuju ke dunia yang ideal, mereka adalah para pembuat perubahan (Drayton, 2006).

Perubahan sosial jarang atau hampir tidak ada yang dilakukan secara kolektif. Sejarah telah mencatat, perubahan sosial selalu digerakkan oleh individu dengan gagasan-gagasan baru yang merupakan antitesis terhadap status quo. Kita tergelitik untuk tahu prasyarat sosial, budaya, dan ekonomi seperti apa yang melahirkan kewirausahaan sosial? Social entrepreneur bisa mewujudkan kekuatan gagasan, namun gagasan itu sendiri memiliki kekuatan yang melampaui wirausahawan sosial.

Menengok ke masa silam, ketika Indonesia sebagai “imagined community”, komunitas terbayang, yang dapat menghadirkan keadilan, kesetaraan, dan kesejateraan secara bersama-sama. Gagasan itu terbangun dari hasil pergulatan pemikiran yang berpangkal dari realitas yang menindas dan eksploitatif. Realitas itu hendak diubah. Soekarno, melalui nota pembelaan di Landraad Bandung yang dikenal dengan “Indonesia Menggugat”, telah menyampaikan gagasan tentang Indonesia masa depan. Hatta, melalui pergulatan intelektual yang intensif dan melihat realitas bangsa merdeka di Eropa yang melawan penindasan melalui kerja sama dan demokrasi, telah menginspirasinya membangun gerakan koperasi di Indonesia dan meletakkan dasar-dasar sistem perekonomian Indonesia ke dalam konstitusi, yaitu pasal 33 UUD 1945.

Kewirausahaan sosial sangat relevan dengan situasi kekinian.  Gerakan Kapitalisme Global yang tidak hanya menghisap sumber daya alam negara yang sedang berkembang, tetapi juga mengekspor gaya hidup hedonistik ini harus dilawan.

Para wirausahawan sosial di berbagai belahan dunia mulai bersikap kritis terhadap kapitalisme global. Selama dua dasawarsa terakhir, mereka telah menggerakkan jutaan orang untuk turun ke jalan di berbagai belahan dunia. Mereka memandang globalisasi lebih menguntungkan para industrialis, para elite ekonomi di negara maju, dan segelintir negara berkembang. Atau, dalam terminologi Richard Falk (1997), globalisasi yang terjadi saat ini merupakan globalisasi yang “dituntun dari atas” (globalizationfrom-above) yang merupakan kolaborasi antara negara maju dengan para agen utamanya untuk penumpukan kapital. Untuk mengimbangi kiprah kapitalisme global, dibutuhkan wirausahawan sosial.

Kewirausahaan sosial meminjam konsep dari Schumpeter secara terus menerus dalam melakukan creative destruction melalui inovasi dan terobosan yang berkaitan dengan new combination terhadap pranata sosial yang ada sebelumnya ke pranata sosial yang lebih baik dan adil. Tantangan terbesar yang dihadapi oleh wirausahawan sosial adalah mengatasi perlawanan terhadap inovasi dan terobosan. Perlawanan ini biasanya mewujud ke dalam sikap sulit dan takut menghadapi perubahan, serta sulit move on. Perlawanan tersebut erat berkaitan dengan perilaku statis atau perilaku tidak mau berubah. Lingkungan sosial yang cenderung memusuhi wirausahawan sosial ini diilustrasikan dengan baik oleh Schumpeter melalui anekdot yang dibuatnya. “Entrepreneur itu tidak perlu dicekik karena mereka kerapkali membahayakan hidupnya sendiri.”

Menciptakan profit adalah keputusan wirausahawan, dan sebagai penanda keberhasilan dalam menciptakan new combination sebagai koreksi atas failed combination. Dalam perspektif ekonomi kapitalis, suatu inovasi bukanlah inovasi bila tidak menghasilkan profit. Dorongan untuk menciptakan laba sama pentingnya dengan kebutuhan untuk mengatasi perlawanan.

Model kewirausahaan sosial sebenarnya tidak jauh berbeda dengan model kewirausahaan umum yang berakar dari teori Schumpeter. Ada lima elemen utama kewirausahaan sosial. Pertama, motivasi. Wirausahawan sosial memiliki karakter yang non-hedonistic. Motivasi mereka adalah mewujudkan mimpinya dengan tindakan yang konsisten. Kedua, membuat inovasi dengan menghadirkan new combination untuk perubahan yang lebih baik. Ketiga, mengatasi perlawanan. Dalam membawa inovasi, wirausahawan selalu dihadapkan pada perlawanan. Perlawanan itu bisa berasal dari tradisi, kebiasaan, atau social habits. Perlawanan tersebut muncul karena adanya kepentingan yang terganggu. Keempat, profit. Entrepreneurial profit adalah prasyarat bagi pemenuhan kewajiban kewirausahaan. Dalam konteks kewirausahaan sosial, profit mewujud pada diterimanya gagasan untuk melakukan perubahan di masyarakat. Kelima, tersambungnya gagasan untuk melakukan perubahan dan respons positif dari masyarakat.

Penulis: Fadel Muhammad

Direpost: wartaekonomi.co.id